Minggu, 02 Januari 2011

TANGGUNG JAWAB MANUSIA TERHADAP KELUARGA DAN MASYARAKAT

“ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)
Melalui ayat tersebut, Allah memerintahkan memerintahkan kepada umat manusia yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya agar mereka menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, yaitu dengan taat dan patuh melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya dan mengajarkan kepada keluarganya supaya mereka melaksanakan perintah agama dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya, sehinnga kita semua (umat manusia) selamat dari kobaran api neraka.
Dalam suatu riwayat dinyatakan pada saat ayat in turun, Umar bin Khotob berkata: “ wahai Rasullah, kami sudah menjaga diri kami, dan bagaimana menjaga diri kami? Rosulullah bersabda:” laranglah mereka mengerjakan sesuatu yang kamu dilarang melakukannya, dan serulah mereka mengerjakan sesuatu yang kamu diperintahkan oleh Allah melakukannya”.
Ibnu Abbas menafsirkan “ Quu anfusakum wa ahlikum naaron” sebagai “beramallah kamu taat kepada Allah dan takutlah kamu akan maksiat kepada-Nya dan perintahkanlah keluargamu dengan mengingat Allah, niscaya Allah akan melepaskanmu dari api neraka”. Sedangkan menurut Sayyidina Ali, R.A:” ajarkan diirimu dan keluargamu kebaikan dan didiklah mereka”. Begitulah cara menghindarkan mereka dari api neraka.
Berdasarkan penjelasan tersebut, jelaslah bahwa ayat diatas memerintahkan , terutama kepada orang tua, sebagai pengemban amanat Allah untuk mendidk anak-anaknya taat dan patuh terhadap perintah agama dan menghindarkan anak-anaknya dari neraka, serta dapat membahagiakan mereka di dunia dan di akhirat. Dalam Q.S An Nisa ayat 9 Allah berfirman yang artinya:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. “(Q.S An Nisa:9)
Ayat tersebut menjelaskan kepada kita agar tidak meninggalkan keturunan yang lemah-lemah yang akan menjadi beban masyarakat, baik lemah jasmani maupun lemah rohan. Melalui ayat tersebut, Allah memerintahkan kepada kaum muslimin, terutama orang tua agar mereka memkirkan, memperhatikan, tidak lalai dan tidak meningalkan keturunan yang lemah-lemah yang akan menjadi beban masyarakat, baik dalam kaitannya dengan hidup di dunia maupun hidup di akhirat kelak.
Rasulullah SAW bersabda dari sa’ad bin Abi Waqash:” sesungguhnya lebih baik bagimu meninggalkan ahli waris dalam keadaan kecukupan daripada meninngalkan mereka dalam keadaan menjadi beban orang lain” (HR. Bukhari).
Agar perintah Allah dan anjuran Rasulnya dapat dijalankan dengan baik, dalam arti tidak meninggalkan anak dalam keadaan lemah dan menjadi beban masyarakat, maka islam mengajurkan kepada umatnya agar mereka memperhatikandan tidak mengabaikan masalah-masalah keduniaan, disamping tetap harus memperhatikan urusan-urusan keakhiratan. Rasulullh SAW bersabda:” Ambillah bagianmu untuk memersiapkan kehidupan akhirat, tetapi jangan melupakan urusan-urusan keduniaanmu”. Dalam kesempatan lain Rasululah SAW bersabda: “Berusahalah untuk memperoleh keberhasilan dunia seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya, dan beramallah untuk kepentingan akhirat seolah-olah kamu akan mati besok”.
Selalu bertaqwa dan mendekatkan diri kepada Allah, berkata lemah lembut dan kasih sayang terhadap anak-anak kita dalam mendidik mereka, dengan harapan mereka dapat tumbuh dan berkembang secara baik, patuh terhadap semua perintah Allah SWT dan Rosul-Nya, berbakti kepada orang tua, berguna bagi dirinya sendiri, orang tua, agama, dan tidak menjadi beban masyarakat.
Dalam penafsiran lain, QS. An Nisa ayat 9 dikaitkan dengan upaya pelestarian lingkungan hidup. Di era industrialisasi ini, lingkungan hidup sering kali menjadi korban oleh sekelompok orang yang tidak bertanggunga jawab dalam memanfaatkan lingkungan hidup. Mereka hanya memikirkan kepentingan diri mereka tanpa memerhatikan dampak yang ditimbulkan, mereka hanya mengambil manfaat dari ingkungan hidup tanpa memberikan solusi terhadap gejala alam yang terjadi. Begitu seringnya kita mendengar penebangan kayu hutan secara liar ( illegal loging), banjir yang terjadi karena hutan yang sudah tidak memberikan manfaat lagi dalam menyerap air karena penebangan hutan yang tidak bertanggung jawab. Akibatnya, anak dan cucu kita tidak berdaya, lemah, karena hak kesejahteraan mereka telah dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang tidak betanggung jawab.
Berdasarkan hal tersebut, QS. An Nisa ayat 9 tidak saja dipahami bahwa kita tidak boleh meninggalkan keturunan yang lemah-lemah (lemah jasmani dan lemah rohani) dan menjadi beban masyarakat karena tidak meninggalkan warisan ( harta peninggalan maupun ilmu), tetapi juga dapat diartikan bawa kita tidak boleh meninggalkan keturunan yang lemah dengan rusaknya lingkungan hidup akibat ulah kita. Dengan demikian, kita harus menjaga dan melestarikan lingkungan hidup, salah satunya dengan ikut andil dan mendukung program pemerintah tentang gerakan pelestarian lingkungan hidup.
Q.S. At Tahrim ayat 6, bedasarkan kacamata ilmu pengetahuan social (sosiologi), merupakan titik awal dimulainya suatu perubahan sosial. Hal ini berdasarkan adanya dua teori perubahan social dalam sosiologi, yaitu:
1. Proses perubahan yang dimulai pada diri manusiasecara individual (perorangan), kemudian dilanjutkan pada perubahan social pada level masyarakat dan kemudian diakhiri pada proses perubahan pada level sains dan teknologi.
2. Proses perubahan social yang dimulai dari perubahan system sains dan teknologi, kemudian merambat pada perubahan level masyarakat, dan diakhiri pada perubahan level individual.

Islam menganut teori perubahan social yang pertama berdasarkan Q.S. At Tahrim ayat 6. Adanya kewajiban memperbaiki kualitas kepribadian dimulai dari dirinya terlebih dahulu, yaitu perintah “jagalah dirimu” dan kemudian disusul dengan “dan keluargamu”, menjadi petunjuk bahwa dalam islam perubahan-perubahan kea rah yang positif dimulaidari level individu (diri sendiri) dan kemudian disusul pada level masyarakat (teori pertama).
Perubahan pada diri manusia (secara individual) mencakup keimanan, akhlak, pengetahuan dan perilaku (merupakan faktor-faktor yang bisa mneyelamatkan manusia dari api neraka). Kemudian perubahan pada level hubungan antara anggota masyarakat berdasarkan pada factor-faktor yang telah dimiliki pada level individual tadi. Setelah terbentuk system kemasyarakat tersebut, barulah perubahan diarahkan pada perubahan system sains dan teknologi yang berupa metode-metode untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat (DEPAG, 2002, hal. 154-164).

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan Bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thoha: 132)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah memerrintahkan kepada Nabi Muhammad SAW agar menyeru kepada keluarganya untuk melaksanakan shalat dan bersabar dalam mengerjakannya, sebagaimana perintah mendirikan shalat kepada dirinya sendiri. Perintah Allah kepada Rasul-Nya tersebut sebagai bekal untuk menahadapi perjuangan berat yang patut dijadikan tauladan untuk menegakkan kebenaran dan ketauhidan di muka bumi ini. Kita terlebih dahulu harus menjalin hubungan yang erta dengan khaliqnya, yaitu dengan cara mengerjakan shalat dan memperkokoh jiwanya dengan sifat tabah dan sabar. Apabila perintah Allah dan Rasul-Nya dilaksanakan secara baik oleh diri kita sendiri dan keluarga kita, maka betapa beratnya perjuangan menegakkan agama , insyaallah semuanya akan dihadapi dengan penuh kesabaran dan ketabahan.
Dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Imam Malik dan Baihaqi dari Aslam, bahwa diantara kebiasaan Umar Bin Khatab r.a ialah beliau selalu melaksanakan shalat malam (tahajud) sampai hamper fajar tiba. Kemudian beliau membangunkan keluarganya dan memerintahkan mereka melaksanakan shalat dengan membaca ayat ini.
Pelaksanaan perintah Allah ini sekaligus merupakan wujud nyata dari tanggung jawab seseorang terhadap keluarganya agar tidak menjadi umat yang lemah, sehingga dapat diselamatkan dari api neraka (DEPAG: 2002, hal. 170).















Sumber: Modul Pembelajaran Qur’an Hadist Al-Hikmah; Membina Kreativitas dan Prestasi:2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar